Jumat, 13 Agustus 2010

BundaPosted: Juli 2, 2010 by Penyair Glandangan in puisi Dan Syair


1Dekap yang sedalam sukma;terasa

Terbekas terisak meriak muka

Setiap kali wajah terlukis kumendo’a

Sebatas bayang lepas,

Membunuh kosongku siksa merindumu…

Bundaku…



Ketika engkau terjaga semalaman,

Memeluk-ku hangat;semasa kusakit dahulu

Ketika rebahku bersandar dipangkuanmu Bunda;jika ku-butuh damaimu

Saat saat engkau dan aku masih bersama Bundaku…



Mencari, menapaki jejak matahari

Hampir setiap desahnya malam menderai sembiluku

Layaknya seperti ibarat aku telah kehilangan

Resah sesaknya jiwa;

Ku-ingin menemuimu Bundaku…



Menanti, pada setiap waktu mengharap Bunda kembali

Semenjak embun kemudian senja,

Walau memutih rambut berkapur…

Tetap aku menantimu Bundaku…

Aku merindumu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar