BundaPosted: Juli 2, 2010 by Penyair Glandangan in puisi Dan Syair
1Dekap yang sedalam sukma;terasa
Terbekas terisak meriak muka
Setiap kali wajah terlukis kumendo’a
Sebatas bayang lepas,
Membunuh kosongku siksa merindumu…
Bundaku…
Ketika engkau terjaga semalaman,
Memeluk-ku hangat;semasa kusakit dahulu
Ketika rebahku bersandar dipangkuanmu Bunda;jika ku-butuh damaimu
Saat saat engkau dan aku masih bersama Bundaku…
Mencari, menapaki jejak matahari
Hampir setiap desahnya malam menderai sembiluku
Layaknya seperti ibarat aku telah kehilangan
Resah sesaknya jiwa;
Ku-ingin menemuimu Bundaku…
Menanti, pada setiap waktu mengharap Bunda kembali
Semenjak embun kemudian senja,
Walau memutih rambut berkapur…
Tetap aku menantimu Bundaku…
Aku merindumu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar